DIKLAT 300 JAM


LAPORAN RENCANA TINDAK LANJUT ON THE JOB TRENING 

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI CALON KEPALA MADARASAH  MELALUI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JARAK JAUH MELALUI DARING


Disusun Sebagai Laporan Akhir Kegiatan Pendidikan Pelatihan Jarak Jauh

Calon Kepala Madrasah Angkatan I

Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur

Periode: 03 Mei s/d 20 Agustus 2021

 


 

 

 


 

OLEH

 

                                          Nama                  : Sanusi, S.Pd.I, M.Pd.

                                                      NIP                     : 197903132009121002

                  Peserta Dari        :  MIN 6  Alor

 

 

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN PELATIHAN JARAK JAUH  CALON KEPALA MADRASAH ANGKATAN I

BALAI DIKLAT KEAGAMAAN  DENPASAR

TAHUN 2021

 

Halaman Pengesahan

Laporan Rencana Tindak Lanjut OJT II

Upaya Meningkatkan Kompetensi Calon Kepala Madarasah  Melalui Pendidikan Dan Pelatihan Jarak Jauh Melalui Daring

Tahun  2021

 

Yang bertanda tangan di bawah ini :

 

Nama                                                                     : Kamaruddin, S.Ag.

NIP                                                                        : 19720828 199803 1 006

Pangkat/ Gol.                                                       : Pembina TK. I, IV/ b

 Jabatan                                                                   : Mentor ( Pengawas PAI SD/MI )

Asal Instansi                                                           : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor

 

Dengan ini mengesahkan laporan hasil RTL OJT II dari kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Jarak Jauh  dengan judul ”Upaya Meningkatkan Kompetensi Calon Kepala Madarasah  Melalui Pendidikan Dan Pelatihan Jarak Jauh Melalui Daring ” adalah benar-benar dibuat oleh :

 

Nama                                                                     : Sanusi, S.Pd.I, M.Pd.

NIP                                                                        : 197903132009121002

Pangkat/ Gol.                                                       : Penata, III/c

 Jabatan                                                                   : Peserta Diklat  PJJ Calon  Kepala  Madrasah   Anggakatan  I  Tahun 2021

Asal Instansi                                                         : MIN 6 Alor

 

Kalabahi, 10 Agustus 2021

Mentor                  

                                   

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Alahmdulillah, puja dan puji syukur hanya milik Allah SWT, karena atas kehendak dan rahmat-NYA laporan RTL OJT ini dapat diselesaikan dengan baik.

Untuk meningkatkan kualitas calon kepala Madrasah perlu mengadakan pendidikan dan pelatihan baik secara structural maupun berkala yang dilakukan oleh lembaga yang diberi tugas dan fungsi melakukan hal tersebut. Untuk melaksanakan kegiatan berupa kegiatan/program/treatment terbaik yang dianggap sebagai solusi terbaik maka Balai Diklat Keagamaan Denpasar sudah melakukannya . Tuntutan jaman hari ini adalah seorang kepala madarsah harus memiliki sekian kompentensi, dimataranya adalah kompetensi profesional, sosial, kepribadian, supervisi dan kompetensi manajerial

Rencana Tindak Lanjut  OJT dengan Judul Upaya Meningkatkan Kompetensi Calon Kepala Madarasah  Melalui Pendidikan Dan Pelatihan Jarak Jauh Melalui Daring dapat diselsaikan dengan baik karena bantuan serta kontribusi baik moril maupun materil dari berbagia pihak, oleh karenanya  pada kesempatan ini ijinkan penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1.      Kepala Balai Diklat Keagamaan Denpasar

2.      Widya Iswara Balai Diklat Keagamaan Denpasar

3.      Kepala  Kantor Wilayah  Kementerian Agama Prov. Nusa Tenggara Timur

4.      Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor

5.      Pengawas PAI SD/MI Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor.

6.      Guru dan Pegawai MIN 6 Alor

7.      Teman-teman pada kegiatan Diklat PJJ Calon Kepala Madarsah Angkata I Tahun 2021

dan semu pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari betul bahwa laporan ini belum sempurna, oleh karena itu kritik serta saran yang baik demi penyempurnaan laporan ini sangat kami tunggu. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan kepda penulis menjadi jalan terwujudnya keberkahan hidup kita semua.,Aamiin...

Kalabahi, 10  Agustus  2021

Penulis

                                                                                       

                                                                             Sanusi

 

 

 

Daftar Isi

 

 

 

 

Halaman

Halaman Judul…………………………………………………………………

I

Halaman Pengesahan………………………………………………………….

Ii

Daftar Tabel……………………………………………………………………

Iii

Daftar Ganbar………………………………………………………………….

Iv

Daftar Lampiran……………………………………………………………….

V

BAB I. Pendahuluan

A.          Latar Belakang…………………………………………………………

B.           Tujuan ………………………………………………………………….

C.           Hasil Yang Diharapkan………………………………………………..

 

1

2

3

BAB II. Profil Sekolah

A.          Profil Sekolah Asal…………………………………………………….

B.           Profil Sekolah Magang………………………………………………..

 

4

5

BAB III. Pelaksanaan Rencana Tindak Lanjut

A.          Pelaksanaan Proyek Kepemimpinan ( RPK )………………………..

1.              Persipan…………………………………………………………….

2.              Pelaksanaan………………………………………………………...

3.              Monev…………………………………………………………….

4.              Refleksi…………………………………………………………….

B.           Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi ( PPK )……………………...

1.              Perencanaan………………………………………………………..

2.              Pelaksanaan………………………………………………………...

3.              Hasil………………………………………………………………

 

6
7

8

9

10

11

12

13

14

Bab IV. Penutup

A.          Simpulan………………………………………………………………..

B.           Saran……………………………………………………………………

 

15

16

Daftar pustaka…………………………………………………………………

Lapiran…………………………………………………………………………

17

18

 

 

 

 

 

BAB  I

 

PENDAHULUAN

 

 

A.       Latar Belakang

Kepala Sekolah / Madrasah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan yang meliputi taman kanak-kanak (TK/ RA), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar / Madarasah Ibtidaiyah (SD/MI), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama/ Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas/ Madrasah Aliyah (SMA/ MA), sekolah menengah kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/ MAK), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), atau Sekolah Indonesia di Luar Negeri.

Untuk dapat diberikan amanah sebagai kepala Serkolah/Madarasah kepada seorang guru, maka dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 6 Tahun 2018 tentang penugasan guru sebagai kepala Sekolah/Madrasah telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas yang harus dilalui oleh seorang guru. Tahapan rekrutmen/pencalonan, Pendidikan dan pelatihan menajadi langkah awal yang harus dilewati oleh seorang calon kepala Sekolah/Madrasah. Dalam proses tahap pencalonan yang diperhatikan adalah proses seleksi administrasi serta seleksi akademik ( pengetahuan ). Sedangkan dalam tahap Pendidikan dan Pelatihan adalah suatu langkah pemberian pengalaman, pembelajaran teori dan praktik setelah tahap seleksi Administasi dan akademik dilalui dengan hasil yang distandarkan.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 6 Tahun 2018 Pasal I ayat 3 pada BAB Ketentuan Umum tentang Pengusulan guru sebagai kepala Sekolah/Madrasah menegaskan bahawa seorang guru calon kepala Sekolah/Madrasah harus memiliki Komptensi. Kompetensi yang dimaksudkan adalah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang melekat pada dimensi kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.

Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah adalah penyiapan kompetensi calon Kepala Sekolah untuk memantapkan wawasan, pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan dalam memimpin sekolah. On The Job Training adalah salah satu langkah strategis untuk mensuport tambahan bekal  dasar berupa pengetahuan dan pengalaman Ketika nanti dipercayakan menjadi seorang kepala madrasah. On The Job Training ( OJT ) yang telah dilakukan dalam upaya menyiapkan fondasi dasar calon kepala Madrasah benar-benar memberikan suatu pengetahuan dan pengalaman yang besar bagi para calon kepala madrasah saat ini. Hal ini dapat dibuktikan oleh penulis sendiri bahwa, setelah beberapa bulan melewati kegiatan Diklat secara jarak jauh dengan melalui daring ini telah banyak membawa perubahan cara berfikir dan sikap yang dimiliki.

Balai Diklat Keaagmaan Denpasar dalam program yang sangat strategis ini memang akan terus diharapkan oleh setiap guru calon kepala Madrasah kedepan, tentu dengan tujuan untuk memberikan modal dasar yang kuat kepada siapa saja yang akan dipercayakan oleh lembaga menjadi kepala Madrasah nanti. Untuk mewujudkan serta menyiapkan kemampuan calon kepala Madarsah, tentu kegiatan On The Job Training  (OJT ) sebagai salah satu metode pelatihan yang mengajarkan keterampilan, pengetahuan, dan kompetensi yang diperlukan bagi calon kepala Madrasah untuk melakukan pekerjaanya nanti.

Kegiatan OJT yang sudah dilakukan oleh penulis ini adalah dengan bentuk Mentoring yaitu metode pelatihan ini diberikan kepada guru pada jenjang manajerial, di mana para mentor atau widya iswara memberikan instruksi kepada guru sebagai peserta langsung untuk melakukan tugas sehari-hari sebagai kepala Madrasah. Tugas-tugas dan praktek kerja tersebut terkait dengan semua komptensi yang dimiliki oleh seorang kepala Madrasah seperti komptensi  profesonal, supervisi, social, kepribadian  dan lain-lain. Dari sekian banyak proses yang penemapaan yang telah dilakukan dalam OJT ini maka ada beberapa kompotensi yang sudah dipraktekan baik itu supervise maupun manajerial.

    

B.     Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan  Rencana Tindak Lanjut On The Job Tarining ini adalah: 

1.         Agar guru-guru calon kepala madarsah memliki pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan oleh seorang  kepala madarsah

2.         Agar guru-guru calon kepala madarsah memliki keterampilan yang diperlukan oleh seorang  calon kepala madarsah

3.         Agar guru-guru calon kepala madarsah memliki   sikap dan mental sebagai seorang  calon kepala madarsah

 

C.    Hasil yang Diharapkan

(kondisi yang ada setelah tujuan tercapai)

1.      Meningkatnya pengetahuan dan pengalaman guru-guru calon kepala madarsah sebagai bekal yang diperlukan oleh seorang  kepala madarsa

2.      Meningkatanya keterampilan guru-guru calon kepala madarsah sebagai bekal yang diperlukan oleh seorang  kepala madarsa

3.      Meningkatnya perubahan sikap dan mental sebagai  seorang  calon kepala madarsah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROFIL MADRASAH

 

MIN 6 Alor adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan di bawah lingkup kewenangan Kementerian Agama Kabupaten Alor. Madarsah ini berdiri sejak tahun 1962 dan berdiri diatas tanah seluas 973 M persegi, dengan jumlah siswa saat ini 215 siwa dan terdapat dalam 10 rombongan belajar. Tenaga pendidik dan kependidikan berjumlah 21 Orang dengan kategori guru PNS 8 orang serta 1 orang  PNS Tenaga kependidikan. kemudian guru Non PNS berjumlah 7 orang dan tenaga kependidikan Non PNS 5 orang. Dari jumalah guru PNS yang ada, 3 orang guru PNS sudah sertifikasi.

Pada tahun 2019 yang lalu MIN 6 Alor baru diresmikan sebagai Madrsah Negeri melalui SK. Menteri Agama RI, dan sejak saat itu MIN 6 Alor yang sebelumnya bernomenklatur swasta di bawah naungan yayasan menjadi  madrasah negeri di bawah kewenagan pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Agama Republik Indomesia. Dibawah ini aka disampaikan profil MIN 6 Alor secara lengkap :

1.           Nama Madrasah

:

MIN 6 Alor

2.          Nomor Statistik Madrasah

3.         NPSN                                         

:

:

111153050006

60722166

4.           Alamat

:

Jl. Cokroaminoto Kalabahi

-     Desa/Kelurahan                      

-     Kecamatan                             

-     Kabupaten/Kota         

-     Provinsi                      

-     Kode Pos        

-     Telp/Fax

:

:

:

:

:

:

Wetabua

Teluk Mutiara

Alor

Nusa Tenggara Timur

85819

082146427111 ( HP )

5.         Status Madrasah                    

:

Negeri

6.         Nama Yayasan           

:

Al-Mujahidin Alila ( ketika swasta )

7.         Nomor Akte Pendirian           

:

Nomor  47 / Tahun   1960

8.      Nomor SK. Penegerian

:

Nomor  731/ Tahun   2018

9.      Tahun Berdiri Madrasah        

:

1960

10.     Tahun Penegerian Madarasah

:

2019

11.     Luas Tanah

:

973m2

12.     Luas Bangunan

:

508m2

13.  Status Tanah

:

Bersertifikat

14.  Status Bangunan

:

Permanen ( Belum ada IMB )

15.  Status Akreditasi/Tahun

:

B ( Baik ) Denagn Nilai 84 / 2018

16.  Visi Madrasah

:

Terwujudnya Madarsah yang Berkualitas dan Menghasilkan Siswa yang Cerdas. Terampil Beriman dan Bertakwa.

17.  Misi Madrasah

:

1.        Menyelenggarakan pendidikan secara dinamis, fleksibel, terprogram selaras dengan perkembangan global

2.        Menciptkan suasana Islami di lingkungan madarsah

3.        Meningkatkan profesionalitas tenaga kependidikan

4.        Meningkatkan kompetensi perserta didik secara berkesenambungan dalam tiga ranah kognitif, psikomotor dan afektif.

5.        Mendapatkan prestasi dalam bidang olehraga, seni dan bentuk kompetensi lainnya

6.        Melanjutkan peserta didik agar dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih yang bermutu

18.  Tujuan Madrasah

:

 

a.       Tujuan Umum

 

:

Terselenggaranya pendidikan yang dapat meningkatkan generasi muda Islam ke masa depan yang lebih baik untuk mencapai tujuan masyarakat yang berakhlakul karimah

b.      Tujuan Khusus

:

1.   Siswa memperoleh nilai Ujian Nasional minimal 70,00 dan rata-rata nilai ujian Madrasah 80,00

2.   Seluruh warga Madrasah harus menerapkan akhlak yang Islami baik di dalam lingkungan Madrasah maupun di masyarakat

 

1.        Program Prioritas/ Keunggulan

MIN 6 Alor sebagai sebuah lembaga pendidikan telah cukup lama berdiri dan menunjukkan eksistensinya di dunia pendidikan. Meskipun demikian, kepercayaan pada lembaga pendidikan yang sudah tua bisa saja berubah, jika tidak ada perubahan-perubahan yang cukup mampu meyakinkan konsumen bahwa lembaga pendidikan ini menawarkan apa yang dibutuhkan zaman. Karenanya “Bertahan dari zaman dengan melakukan perubahan lebih baik daripada bertahan dengan apa yang ada dan tergerus zaman.”

Tujuan program pengembangan Mutu MIN 6 Alor  adalah:

1)     Meningkatnya manajemen dan mutu pendidikan

2)     Meningkatnya kinerja pendidik dan tenaga kependidikan

3)     Meningkatnya infrastruktur kependidikan di MIN 6 Alor

4)     Adanya sistem pendidikan yang tersistematis dan berkesinambungan

5)     Meningkatnya kepedulian orang tua terhadap anak didik

6)     Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap pendidikan

7)     Meningkatnya moral anak didik dengan perilaku santun

8)     Meningkatnya prestasi siswa secara akademik

9)     Meningkatnya ketrampilan/ skill anak didik

10)   Terbentuknya kemampuan kepemimpinan pada anak didik

Sasaran program kerja ini adalah seluruh stake holder pendidikan, termasuk masyarakat dan wali siswa

2.  Program dan Gambaran Program

a)    Perbaikan dan peningkatan manajemen pendidikan

Manajemen pendidikan meliputi kegiatan akademik dan non akademik. Kegiatan akademik meliputi pengelolaan anak didik menyangkut pengkondisian pra-belajar, proses belajar dan pasca belajar. Kegiatan non akademik terkait dengan manajemen peningkatan lembaga

b)    Peningkatan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang memadai akan mampu meningkatkan prestasi anak didik. Lengkapnya sarana prasarana akan membantu pembelajaran siswa

c)     Adanya konsep kurikulum berbasis Islam

Kurikulum berbasis Islam yang dimaksud adalah tinjauan berbagai disiplin ilmu dengan pendekatan dari sisi Islam, sehingga ada perbedaan antara kurikulum yang ada di MI dan SD. Program ini membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar, sehingga dimungkinkan langkah-langkah yang bertahap

d)    Adanya pengembangan metode pembelajaran

Program Pengembangan metode pembelajaran diawali dengan kegiatan supervise dari Madrasah. Supervisi ini dalam rangka mengevaluasi dan meningkatkan kinerja guru, sehingga anak didik lebih menyenangkan dan menguasai dalam pembelajaran

e)    Peningkatan kinerja guru dan karyawan

Pendidik dan tenaga kependidikan berperan sangat penting dalam peningkatan mutu pendiidkan. Masing-masing saling melengkapi karena terkait degan manajemen pendidikan. Dengan peningkatan kinerja ini, guru dan karyawan bisa lebih baik dalam melayani kebutuhan anak didik

f)    Meningkatnya komunikasi sekolah-keluarga

Kerjsama madrasah dan keluarga sangat diperlukan dalam membentuk karakter anak didik. Kerjasama ini mamapu membangun anak didik secara mental khususnya, sehingga anak didik dapat menjadi anak yang memegang teguh nilai-nilai moral

g)    Adanya peran masyarakat dalam pendidikan

Masyakat adalah entitas dinamis yang memegang peran penting dalam hidup atau matinya sebuah lembaga. Kerjasama dan peningkatan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan akan memperbesar lembaga pendidikan itu sendiri. Disamping itu, peran masyarakat sangat besar mengingat bahwa perkembangan anak didik sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan

h)    Peningkatan nilai raport dan perilaku siswa

Prestasi siswa tercermin dalam nilai dalam raport. Nilai raport ini tidak hanya sekedar nilai kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotornya. Arah pendidikan yang dimaksud disini kemudian adalah optimalnya kecerdasan-kecerdasan siswa

i)     Peningkatan prestasi siswa

Eksistensi lembaga dan siswa penting untuk ditunjukkan, disamping meningkatkan semangat dan kinerja lembaga, mencapai prestasi tertentu akan membuat lembaga pendidikan dapat meningkat

3. Waktu Dan Jangka Program

a)     Jangka Pendek

Jangka pendek program pendidikan berlangsung selama satu tahun. Target dari program satu tahun ini adalah

(1).  pembangunan internal dengan meningkatnya kedisiplinan siswa, guru, karyawan di MIN 6 Alor

(2). Pembenahan administrasi juga menjadi prioritas pertama sehingga tersedia data base yang mudah dan dapat diakses semua orang.

 (3). Eksistensi lembaga dengan adanya sosialisasi ke masyarakat tentang MIN 6 Alor, karena selama ini madarsah ini masi dikelola oleh masyarakat dalam bentuk swasta ( MIS  Al-hidayah Kalabahi ).

b)     Jangka Menengah

Program jangka menengah ini berlangsung selama tiga tahun. Menargetkan adanya sistem pendidikan yang tersistematis, actual dan mengarusutamakan (mainstreaming) hak anak dan moral. Mainstreaming yang dimaksud dilatarbelakangi oleh dekadensi moral anak yang terjadi pada masa sekarang. Bentuknya adalah pelaksanaan pembelajaran yang menyenangkan, namun punya arahan tertentu sehingga prestasi anak didik dapat meningkat

c)     Jangka Panjang

Program jangka panjang ini dilaksanakan selama satu dekade atau selama kepemimpinan yang ada saat ini. Langkah demi langkah dalam pelaksanaan program pengembangan mutu madrasah akan menciptakan

(1). Program pendidikan yang tersistematis

(2). Meningkatnya prestasi akademik dan non akademik siswa

(3). Meningkatnya prestise lembaga pendidikan

(4). Menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dengan keunggulan Entreprenurship dan Hafidz

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PELAKSANAAN RENCANA TINDAK LANJUT

 

A.    Pelaksanaan Rencana Proyek Kepemimpinan

Pelaksanaan rencana proyek kepemimipnan yang penulis lakukan adalah sesuai dengan salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam OJT ini adalah kemampuan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang calon kepala Madrsah  yaitu, kompetensi supervise akademik. Supervisi yang telah dilakukan adalah  supervise perangkat pembelajaran dan supervise akademik kepada guru-guru, baik guru tematik maupun guru matapelajaran pada MIN 6 Alor.

MIN 6 Alor adalah lokasi magang  yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor dalam hal ini melalui sesksi teknis yaitu Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor.

Setelah mendapatkan lokasi magang yaitu pada Madrasah tempat  penulis bertugas, bersama mentor Bapak Kamaruddin, S.Ag, ( Pengawas PAI SD/MI pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor )  penulis melakukan beberapa kegiatan awal sebagai upaya untuk mengaplikasikan salah satu kompetensi sebagai seorang calon Kepala Madarsah yaitu Kompetensi Supevisi.

Kompetensi supervise adalah kemampuan seorang kepala madrasah dalam melakukan penilaian dan perbaikan kepada kinerja guru dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai seorang pendidik. Kompetensi supervisi seorang kepala madrasah meliputi akademik dan manajerial. Kompetensi supervise akademik sangat erat hubungannya dengan profesionlisme tugas sebagai seorang guru, dimana supervise akademik lebih pada melakukan penilaian dan perbaikan pada proses akademik guru yaitu mengajar dan mendidik siswa.

Dalam proses mengajar dan mendidik ini guru tentu akan mempersiapkan segala sesutu untuk melakukan proses KBM yang baik dan berkualitas, yaitu persiapan perangkat pembelajaran, penguasaan materi dan lain-lain. Oleh karena itu Kepala Madrasah dalam melakukan supervise akademik tentu hal pertama yang diperiksa adalah perangkat pembelajaran, dan setelah itu proses pembelajaran di dalam kelas.

Supervisi akademik yang akan dilakukan oleh penulis dalam melakukan penilaian dan perbaikan perangkat maupun proses PBM kepada guru tentu menggunakan beberapa pendekatan,salah satunya adalah pendekatan kolaboratif. Pendekatan ini diambil dengan tujuan agar kegiatan supervise tidak terkesan menekan dan menakuti guru, namun lebih pada suatu situasi yang santai namun serius. pendekatan kolaboratif lebih pada membangun komunikasi secara kekeluargaan dan humanity.

Oleh karena itu, dalam pelaksanaan rencana proyek kepemimpinan ini penulis melakukan sebuah kegiatan supervise akademik dengan pendekatan kolaboratif kepada guru-guru MIN 6 Alor pada tahun pelajaran 2021/2022. 

1.      Persiapan

Pada kegiatan supervise kepada guru, penulis melakukan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif. Kegiatan yang sangat penting ini penulis tentu tidak begitu saja melakukannya tanpa membuat sebuah perencanaan dan persiapan awal. Pada proses persiapan, dimulai dengan sebuah perencaan yang baik. Perencanaan kegiatan supervise akademik merujuk pada hasil analisis proses supervise akademik sebelumnya, hasil analisis supervise sebelumnya menunjukkan bahwa masi ada kekurangan-kekurangan yang telah dilakukan oleh guru dan harus dilakukan perbaikan serta perubahan yang lebih baik lagi. Hasil analysis menunjukkan bahwa guru-guru harus melakukan satu peningkatan dalam tugas dan fungsinya sebagai guru di dalam kelas. Oleh karena itu berdasarkan hasil supervise sebelumnya maka dibutuhkan tindak lanjut untuk memperbaiki kondisi dan performan guru dalam melakukan tugasnya. Persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum melakukan supervise adalah

a.       membuat surat pemberitahuan kepada guru untuk dilakukan supervise akademik ( terlampir )

b.      membuat jadwal supervise ( terlampir )

c.       membuat surat permintaan sebagai supervisor kepada beberapa guru senior yang dianggap mampu untuk dijadikan supervisor teman sejawat. ( terlampir )

d.      membuat beberapa format insturmen supervise akademik untuk dijadikan instrument penilaian pada saat kegiatan supervise akademik ( terlampir )

e.       setelah semua persiapan dilakukan maka kegiatan supervise akademik siap dilakukan kepada guru-guru sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan

2.      Pelaksanaan

Setelah semua persiapan kegiatan supervise akademik dilakukan dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan kegiatan supervise yang dilakukan dengan scenario sebagai berikut:

a.       memastikan peserta supervise ( guru-guru ) yang akan disupervisi siap dilakukan supervise pada waktu yang telah disepakati bersama dengan supervisor sesuia dengan jadwal yang ada.

b.      sebelum melakukan supervise klinis atau pembelajaran di dalam kelas, maka terlebih dahulu supervisor melakukan supervise terhadap perangkat pembelajaran guru. Perangkat yang diperiksa adalah semua dokumen guru yang berhubungan dengan  pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas , seperti RPP dan silabus serta dokumen pembelajaran lainnya. Supervisi perangkat pembelajaran adalah melakukan penilaian dan koreksi terhadap semua perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh guru dengan merujuk pada aturan yang ada. Dengan panduan instrument supervise perangkat , sorang supervisor dapat dengan mudah melakukan penilaian dan koreksi terhadap setiap perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru. Setelah melakukan penilaian dan koreksi, supervisor dapat memberikan masukan serta rekomendasi terhadap guru atas hasil supervise perangkat pembelajaran tersebut dengan  tetap perpegang pada prinsip objektif, professional serta humanis. Karena supervise perangkat satu paket dengan kegiatan supervise pembelajaran di dalam kelas, maka masukan dan koreksi secara langsung terhadap guru akan dilakukan pada saat kegiatan supervise di dalam kelas berakhir. ( Dokumen Kegiatan supervise terlampir )

c.       setelah melakukan supervise perangkat pembelajaran, maka kegiatan selanjutnya adalah masuk ke dalam kelas dan melakukan supervise kegiatan pembelajaran. Kegiatan supervise pembelajaran dilakukan dengan melakukan penilaian terhadap proses kegiatan mengajar guru di dalam kelas. Kegiatan supervise pembelajaran dilakukan oleh supervisor dengan menggunakan instrument supervise pembelajaran. Hal-hal yang dilakukan adalah melakukan penilaiaan terhadap isi RPP yang digunakan oleh guru ketika mengajar saat itu, serta semua komponen proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru didepan kelas. Selain itu, kesesuaian antara isi RPP dengan apa yang dilakukan oleh guru serta komponen-komponen penilaian yang lain sesuai denga isi format isntrumen supervise pembelajaran yang tersedia pada supervisor. Dalam proses penilaian terhadap proses pembelelajaran di dalam kelas oleh guru, supervisor tetap memegang prinsip-prinsip supervise akademik yaitu humanis, objektif dan akuntabel dan professional. Setelah semua kegiatan pemebelajaran di dalam kelas dan supervisor melakukan penilaian, maka guru dan supervisor melakukan diskusi terkait semua hasil penilaian baik terhadap kegiatan supervise perangkat maupun proses KBM di dalam kelas. ( Dokumen kegiatan supervise teralmpir )

3.      Monev

Dari kegiatan supervise akademik tersebut dapat penulis sampaikan beberapa hasil monitoring dan evaluasi sebagai berikut:

a.       Persiapan kegiatan dan perencanaan kegiatan telah dilakukan secara baik dan maksimal. Hal ini terlihat bahwa semua persiapan kegiatan dilakukan secara matang. Koordinsasi antara Kepala Madrasah dengan guru serta supervisor sejawat terlihat sangat baik, hal ini bisa dibuktikan dengan kesiapan guru dan guru sejawat dalam kegiatan supervise akademik yang telah dilaksanakan begitu baik. Guru terlihat sangat siap dengan semua proses supervise tersebut, tergambar pada kesiapan guru, baik itu pada pesiapan perangkat pembelajarannya maupun kesiapan guru dalam melakukan kegiatan KBM di dalam kelas yang dipantau langsung oleh para supervisor.

b.      Pelaksaan kegiatan berjalan lancar dan aman. Pelaksanaan kegaiatan terlihat berjalan lancar dan aman, hal ini dapat dibuktikan dengan semua alur kegiatan dilewati sesuai dengan rencana, baik guru maupun supervisor terlihat melakukan tugasnya masing-masing secara professional. Kegiatan ini berlangsung berdasarkan jadwal yang sudah disepakati sehingga semua kompnen yang terlibat dalam kegiatan supervise ini dapat bertanggungjawab atas tugas dan posisi masing-masing. Seperti yang tergambar pada pelaksanaan kegiatan supervise akademik, dapat penulis jelaskan bahwa sejak dimulainya supervise administrasi pembelajaran dan supervise akademik ( klinis ) terlihat guru sudah siap dengan proses supervise ini sehingga supervisor tidak terlalu mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian. Semua tagihan yang terdapat pada instrument supervise dapat dipenuhi oleh guru, walaupun isi dari dokumen tersebut memang masi ada yang belum sempurna. Oleh karena itu, penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa pelaksanaan kegiatan berjalan aman dan terkendali dengan baik.

c.       Hasil kegiatan supervise peragkat dan supervise akademik. Jika dilihat dari hasil kegiatan ini secara umum sudah membuahkan hasil yang cukup bagus, hal ini terlihat bahwa semua guru yang direncanakan untuk dilakukan supervise, semuanya berhasil dilakukan supervise oleh tim supervise. Kesiapan guru dalam melakukan kegiatan ini terlihat sangat baik dan maksimal, terlihat guru-guru tidak mengalami sakit sebelum disupervisi ( demam panggung ) dan sakit pula setelah disupevisi ( Traumatik Psycologis ), oleh karena ini merupakan sebuah pilihan dari profesi sebagai seorang guru, maka hal-hal tersebut di atas tidak terjadi. Oleh karena itu dapat disimpulkan pula bahwa kegiatan ini secara umum berhasil dengan baik  

4.      Refleksi

Dari semua proses kegiatan apapun, tentu ada kesimpulan akhir dari hasil sebuah kegiatan. Kesimpulan akhir ini tentu berangkat dari sebuah hasil analisis dan dan refleksi dari sebuah kegiatan itu sendiri. Untuk mendapatkan kseimpulan yang paripurna maka penulis dapat menyampaikan hasil refleksi dari kegiatan supervise akademik yang telah dilakukan oleh penulis di MIN 6 Alor. Diantara refleksi yang dapat penulis sampaikan adalah:

a.       Secara umum guru-guru siap untuk disupervisi, baik perangkat pembelajaran maupun supervise akademik ( klisnis ), namun hasil supervise membuktikan masi ada guru-guru yang membuat perangkat belum sempurna bahkan banyak perangkat yang dicopy paste dari internet dan lupa untuk melakukan koreksi dan perbaikan sesuai dengan kebutuhan guru tersebut, oleh karena itu penulis mendatkan rekomendasi dari beberapa supervisor sejawat bahwa, masi ada perangkat pembelajaran guru yang isinya tidak sesuai dengan kondisi dan kebutahan serta kondisi guru tersebut. Maka dari hasil analisis dan penilaian ini penulis dapat menyampaikan bahwa guru-guru di MIN 6 Alor sudah mampu menunjukkan perangkat pembelajarannya secara lengkap, namun isi dari perangkat tersebut ada yang tidak sesuai dengan kosndisi dan kebutuhan lokasi setempat. Maka untuk mengatasi hal tersebut di atas, harus ada sebuah scenario kegiatan peningkatan kemampuan pada guru-guru dalam membuat perangkat pembelajaran yang baik dan leangkap secara aturan.

b.      Pada umumnya guru-guru MIN 6 Alor dalam kegiatan supervise akademik ( klinis ) secara fisik dan mental sudah siap, dan bersyukur semua guru berhasil disupervisi dengan baik. Namun secara objektif penulis perlu menyampaikan bahwa hasil rekomendasi dari supervisor bahwa masi ada guru-guru yang mengajar tidak sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat ( RPP ), seperti alokasi waktu, metode, bahkan media yang digunakan tidak sesuai yang direncanakan dan masi banyak lagi rekomendasi yang lain. Dari kondisi objektif tersebut dapat penulis sampaikan bahwa kemampuan guru-guru dalam menyampaiakan pembelajaran di dalam kelas sangat variative. ada Sebagian guru yang memang belum mampu mengajar dengan berpedoman pada RPP yang telah dibuat. selain proses pebelajaran yang belum sepenuhnya merujuk pada RPP, masi banyak guru-guru yang membuat penilaian akhir dari proses KBM belum merujuk pada standar penilaian HOTS. Terlihat bahwa guru-guru masi merujuk pada penilaiaan yang berlevel LOT. Hal ini menurut penulis bahwa kemapuan guru-guru untuk membuat penilaiaan pembelajaran HOTS masi belum maksimal. Relaitas tersebut di atas, penulis berkeyakinan bahwa hal ini bisa diatasi dengan cara guru-guru harus terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyampaikan pembelajaran di depan kelas dengan tidak keluar atau mebias dari rencana yang sudah disiapkan, serta proses penilaian keterampilan berfikir tingkat tinggi ( HOTS ) dapat dilakukan. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan tesebut kususnya pada penilaian HOTS maka lembaga atau Kepala Madrasah membuat program kegiatan peningkatan kemampuan guru-guru, baik dalam bentuk worshop, diklat dan lain-lain.

c.       Hari ini guru dituntut untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dengan sebaik mungkin  secara kreatif dan inifatif. Hal ini menjadi jawaban atas tuntutan dalam kondisi pandemic sekarang. Tuntutan pembelajaran dengan moda Daring ( dalam jaringan ) menjadi keharusan untuk dilakukan guna melayani kebutuhan proses pmebelajaran terhadap siswa. Untuk menyempurnakan proses pembelajaran yang baik maka guru diharuskan membuat penilaian yang berlevel HOTS. Penilaian HOTS adalah kemapuan guru menyusun instrument penilaian kepada siswa dengan kategori pertanyan soal pada level C4, C5 dan C6.  Untuk meningkatkan kemampuan guru, terutama dalam menyiapkan perangkat pembelejaran dan penilaian HOTS yang baik tersebut maka perlu upaya dari Madrasah dalam hal ini Kepala Madrasah untuk melakukan sebuah kegiatan pendampingan atau pelatihan secara terpusat dan terencana. Kegiatan tersebut akan mampu mejawab dari beberapa kekurangan atau kelemahan guru-guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi kegiatan supervise ini Kepala Madrsah dapat merencanakan program yang strategis sesuai dengan kebutuhan  guru dan lemabaga secara umum dan akan menajdi barometer keberhasilan dari sebuah kompetensi manajerial seorang Kepala Madrsah.   

B.     Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi ( PPK )

Pelaksanaan peningkatan kompetensi adalah sebuah upaya peningkatan kemampuan baik secara individu maupun kelompok terhadap  manager maupun karyawan atas kemampuan-kemampuan pokok yang harus dimiliki  dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Pengertian di atas jika dilihat dari aspek pendidikan maka peningkatan kompotensi  yang dimaksud adalah peningkatan kemampuan Kepala Madrasah dan guru-guru serta tenaga kependidikan.

Pada konteks pelaksanaan peningkatan kompetensi yang dilaksanakan oleh penulis adalah bagaimana menjawab beberapa kekurangan dan kelemahan guru-guru MIN 6 Alor ketika meyiapkan perangkat pembelajaran dan melakukan penilaian HOTS terhadap peserta didiknya. Hal ini berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dilakukan oleh penulis setalah kegiatan supervise berlangsung sebagai kegiatan Pelaksanaa Perencaan Proyek Kepemimpinan .

Oleh karena itu untuk menindaklanjuti dan membenahi kelemahan-kelemahan guru dari hasil supervise dalam  Proyek Kepemimpinan maka penulis melaksanakan pendampingan dalam sebuah kegiatan secara terencana dan terpusat. Namun yang menjadi konsentrasi dalam kegiatan pendampingan ini adalah Penyusunan Soal HOTS bagi guru-guru MIN 6 Alor pada tahun pelajaran 2020/2021. Untuk mewujudkan kegiatan pendampingan ini penulis menyusun langkap-langkah proses kegiatan sebagai berikut:

1.      Persiapan

a.      Penyusunan Panitia

Pada kegiatan pendampingan ini panitia dibentuk secara resmi melaui rapat dewan guru dan panitia yang mengatur semua prosesi kegiatan dari pembukaan sampai penutupan. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pendidikan Islam kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor.

b.      Jumlah peserta yang akan mengikuti pelatiahan

Peserta yang mengikuti kegiatan pendampingan ini berjumlah 14 Guru, baik yang PNS maupun Non PNS, baik itu guru kelas maupun guru matapelajaran

c.       Biaya yang akan digunakan

Biaya yang gunakan kegiatan ini bersumber dari dana KOMITE Madrasah serta dana lain yang relevan ( Biaya ATK, konsumsi berupa snack )

 

d.      Lamanya pelatihan

Kegiatan pendampingan ini dilakukan sejak tanggal 7  sd. 9 Juni 2021 ( Jadwal Terlampir )

e.       Nara sumber/ fasilitator

(1)   Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kab. Alor

(2)   Pengawas Madrasah 1 orang

(3)   Penulis sendiri

2.      Pelaksanaan

Kegiatan ini dilaksanakan  selama 3 hari di bulan Juni 2021. Bentuk utamanya  adalah pembahasan materi HOTS dan pemetaan KD  serta kegiatan yang dilaksanakan dengan cara mempraktekkan langsung penyusunan soal tersebut.

Langkah -langkah Kegiatan Peningkatan Kompetensi

1)      Persiapan kegiatan

( a) Koordinasi yaitu melakukan koordinasi dengan guru-guru sebagai peserta

serta pengawas madrasah sebagai mentor penulis dalam melakukan pendampingan kepada guru-guru

(b) Penyiapan media yaitu melakukan persiapan media-media yang diperlukan dalam kegiatan pendampingan, seperti infokus, lembar instrument pendampingan ,lembar instrument kerja  guru serta buku dan referensi dalam penyusunan soal HOTS dan matrik level soal ( Taksanomi Boom) dan media-media pendukung lainnya guna melancarkan kegiatan.

(c) Penyiapan penyaji yaitu melakukan pemberian motivasi serta menjelaskan langlah-langkah dalam penyusuan soal HOTS kepada peserta. hal ini dapat dilakukan secara kolaboratif baik oleh penulis maupun oleh guru yang ditunjuk sebelumnya. dalam penyiapan penyajian ini panitia berkoordinasi dengan para pemateri yang akan menyampaikan materi dalam kegiatan, baik itu waktu dan bahan yang akan disiapkan oleh setiap pemateri termasuk kepastian kehadirannya dilokasi kegiatan.

(d) Penyiapan peserta. dalam penyiapan peserta panitia telah malakukan pemanggilan peserta dengan informasi resmi dan mengetahui Kepala Madarsah. panitia membuat jadwal kegiatan yang akan dipedomani oleh peserta dalam kegiatan yang dimaksud. peserta disampaikan juga beberapa tatatertib kegiatan, seperti penggunaan kostum pada saat kegiatan, serta ketentuan-ketentuan lainnya.

(e) Penyiapan penunjang lainnya. penyiapan penunjang lainnya adalah tempat dan fasilitas kegiatan yang nyaman, tempat sholat dan sarana pendukung, tempat makan dan tempat istirahat. termasuk kamar mandi/WC serta tempat wudhu bagi peserta maupun narasumber.

2) Pelaksanaan kegiatan

a)      Pendahuluan

      pada kegiatan pendahuluan baik dari pembukaan kegiatan sampai pada kegiatan inti dalam penyampaian materi oleh narasumber telah tersusun dalam jadwal yang telah dibuat oleh panitia. pada kegiatan pendahuluan hal-hal yang telah dilakukan adalah menyiapakan upacara pembukaan kegiatan serta pelaksanaan upacara yang diatur oleh panitia. pada upacara pembukaan kegiatan dilakukan penyampaian-penyampaian awal oleh kepala madarsah dan sambutan oleh kepala seksi Pendidikan islam sekaligus membuka kegiatan dengan resmi.

b)      Inti:

(1)   Penerapan model soal HOTS

dalam sesi ini pemateri menyampaikan beberapa landasan dasar dalam penerapan model soal HOTS yang menjadi focus dalam kegiatan. penyampaian materi dilakukan secara kolaboratif yang dimulai dengan penyampaian materi umum oleh kepala seksi Pendidikan Islam Kantor Kemeneterian Agama Kabupaten Alor, kemudian  penyampaian materi oleh narasumber lainnya secara bergantian sesuai dengan jadwal materi yang telah disampaikan dalam jadwal kegiatan.

(2)   Keseriusan penyaji

terlihat dalam penyampaian materi dan dalam pendampingan, pemateri sangat serius dalam menyajikan materi yang diampunya secara masing-masing dengan sangat professional dan bertanggungjawab. tidak terlihat kesan main-main dalam penyampaian materi-materi tersebut, sehingga penulis dapat menympulkan bahwa keseriusan penyaji dalam menyampaikan materi sangat baik dan perlu diberikan apresiasi.

(3)   Keaktifan peserta

kesan pertama dalam kegiatan test awal pada setiap peserta bahwa memang peserta sangat antusias dengan kegiatan pendampingan penyusunan soal HOTS ini, terbukti bahwa hampir semua tugas dan soal pada tes awal kegiatan dilakukan dengan serius dan antusias yang tinggi. sejak pembukaan sampai pada penutupan kegiatan terlihat semua peserta sangat aktif dalam mengikuti kegiatan tersebut. keaktifan para peserta didukung oleh metode dan pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu pendekatan kolaboratif, artinya bahwa ada Sebagian guru atau peserta yang dianggap mampu menjadi pendamping bagi peserta lain, sehingga tidak terksan monoton materi diberikan oleh narasumber utama, oleh karena itu peserta merasa bahwa mereka sendang belajar secara bersama-sama dengan teman-teman lainnya.

(4)   Pengukuran hasil belajar peserta

untuk mengetahui kamampuan dasar para peserta maka narasumber melakukan post test kepada peserta, dengan tujuan untuk mengetahui apakah peserta sudah mampu menyusun soal HOTS atau belum. setelah dilakukan tes awal ini, diketahui bahwa hapir 90% guru belum mengetahui cara meyusun soal HOTS. Demikian juga setelah kegiatan berjalan, maka tentu narasumber melakukan pengukuran dengan merujuk pada hasil tes awal tersebut. Pengukuran pada akhir kegiatan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman dan kemampuan peserta dalam menyusun soal HOTS tersebut. Setelah dilakukan pengukuran terlihat ada peningkatan kemampuan yang dimiliki oleh peserta dalam penyusunan soal HOTS. Memang belum 100% peningkatan kemampuannya, tetapi hampir 98% para peserta sudah memiliki kemapuan dalam penyusunan soal HOTS.

c)      Penutup

      Dari semua ragkaian  kegiatan tersebut tentu pada kegiatan penutup, segala rankaian seremonialnya disiapkan oleh panitia. Namun pada kegiatan penutup ini tidak lagi dihadiri oleh Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor, penutupan ini dilakukan oleh Pengawas PAI SD/MI Kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor bersama Kepala Madrasah saja, oleh karena itu pada kegiatan penutup ini terlihat hanya pengawas saja dan Kepala Madarsah yang menyampaikan arahan-arahan kepada peserta kegiatan.

 

 

3.      Analisis Hasil Kegiatan

a.       Kegiatan pendampingan  dalam rangka meningkatkan kompetensi guru-guru dalam penyusunan soal HOTS di MIN 6 Alor didapati bahwa masi banyak guru-guru yang belum mampu menyusun soal HOTS sesuai dengan kaidah dan ketentuan soal yang dimaksud, oleh karena itu langkah efektif yang dapat dilakukan oleh seorang kepala Madrasah dalam menjawab persoalan ini adalah dengan melakukan pendampingan melalui sebuah kegiatan pendampingan penyusunan soal HOTS yang dilakukan secara terpusat.

b.      Hasil kegiatan sebelum dilakukan pendampingan baik oleh penulis maupun oleh guru-guru yang ditunjuk, ditemukan ada 7 orang guru tematik ( Guru kelas ) dan 3 orang guru Mapel ( Agama dan Penjaskes ), masi ditemukan kesalahan dalam membuat dan menentukan soal tersebut dalam kategori HOTS

c.       Untuk menjawab problem yang dihadapi oleh guru-guru ( peserta pendampingan ) maka penulis ( Kepala Madrasah ) malakukan pendampingan kepada guru-guru ( peserta ) dibantu oleh guru-guru ( peserta yang ditunjuk ) melakukan pendampingan pembuatan soal HOTS dengan baik dan benar.

d.      Setelah dilakukan pendampingan bebrapa hari, dan pada hari terakhir dilakukan penilaian dengan menggunakan isntrumen yang sudah disipakan didapati bahwa guru-guru ( peserta ) sudah mampu membuat soal HOTS dengan baik dan benar.

e.       Walaupun masi ditemukan ada beberapa nomor soal yang disusun oleh guru ( peserta ) masi terdapat kekeliruan, namun masi dapat diperbaiki lebih lanjut oleh peserta dan hal ini menjadi tugas rumah selanjutnya bagi peserta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Instrimen Monev : Instrument monev dalam hal ini adalah lembar monitoring kegiatan penyusunan soal peserta :

                                                     

INSTRUMEN MONITORING PENYUSUNAN SOAL HOTS

 

 Nama Sekolah      : MIN 6 Alor

 Materi                   : Tematik / Mapel

 Jumlah                  : 35

 Bentuk Soal         : PG

No.

Nama Peseta

 

No. Soal

Indikator Soal HOTS

Jumlah

1-5

1-3

1-2

1

4

3

2

1

1

 

01.

 

 

 

 

 

2

 

02.

 

 

 

 

 

3

 

03.

 

 

 

 

 

4

 

04.

 

 

 

 

 

5

 

05.

 

 

 

 

 

6

 

06.

 

 

 

 

 

7

 

07.

 

 

 

 

 

Dst.

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Terpenuhi Indikator 1 sd. 5 Nilai = 4

Terpenuhi Indikator 1 sd. 3 Nilai = 3

Terpenuhi Indikator 1 sd. 2 Nilai = 2

Terpenuhi Indikator    2    Nilai = 1

    Catatan Narasumber:

 

 

Kalabahi, 10  Juni  2021

Peserta Pendanmpingan                                                                      Narasumber/ Pendamping

 

……………………….                                                                       Sanusi, S.Pd.I, M.Pd

 

 

 

 

INSTRUMEN PENILAIAN PESERTA DALAM PEMBUATAN SOAL

TAHAP PENDAMPINGAN I

 

Nama Peserta        :

Kelas/ Semester    :

Materi                    :

Tahap Damping    : 

No. Soal

Kompetensi Dasar

Standar Kompetnsi

Level HOTS

Ket.

 

 KD yang sudah dilakukan dengan pemetaan dalam Silabus dan Buku siswa pada masing-masing Tema dan maple

Kesesuaian antara materi dan level soal yang dibuat dengan standar taksanomi Bloom

Kesesuaian pemilihan kata kerja dalam penentuan kalimat yang menunjukkan pada level C4, C5 dan C6 yaitu analisis, Evaluasi dan Penciptaan

 

1.       

KD…………

Soal

1

2

3

 

2.       

 

 

 

 

 

 

3.       

 

 

 

 

 

 

 

Catatan:

3 : Sangat sesuai

2 : Kurang sesuai

1 : Tidak sesuai

            NA = SP x 100

                      Skor Maks

    Catatan Pendamping:

 

 

                                                                                                            Kalabahi, 7 Juni  2021

Peserta Pendanmpingan                                                                      Narasumber/Pendamping                                                                   

 

                                                                   

……………………….                                                                       Sanusi, S.Pd.I, M.Pd

 

 

 

 

 

REKAPAN HASIL PENILAIAN KERJA PESERTA TAHAP DAMPING I

Nama Kegiatan                 : Pendampingan Kepada Guru Dalam Penyusunan Soal HOTS

Kompnen Penilaian           : Pembuatan Soal HOTS

Materi                                : Tematik

Jumlah Soal                       : 35

Bentuk Soal                       : Pilihan Ganda

 

No.

Nama Peserta

 

KD/SK/ HOTS

Skor Perolehan

Nilai

Akhir

Ket.

1

2

3

1.       

Herlina Latu, S.Pd.

5

-

30

90

85,714

Baik

2.       

Siti Marwa Djadi, S.Pd.I

16

-

19

57

54,285

Kurang

3.       

Asma Bela, S.Pd.

15

-

20

60

57,142

Kurang

4.       

Masita Sibala, S.Pd.I

14

-

21

63

60

Kurang

5.       

Hajrah, A,Ma.

16

-

19

57

54,285

Kurang

6.       

Maryanti Kadir, S.Pd.

5

-

30

90

85,714

Baik

7.       

Saiful Oang, S.Pd.

3

-

32

96

91,428

Baik

8.       

Murniati Mustafa, S.Pd.

17

-

18

66

62,857

Kurang

9.       

Fitriani Kadir, S.Pd.

16

-

19

57

54,285

Kurang

10.   

Siti Aminah Jou, S.Pd.

13

-

22

66

62,857

Kurang

           

Catatan:

3 : Sangat sesuai

2 : Kurang sesuai

1 : Tidak sesuai

                        NA = SP x 100

                                 Skor Maks

            Kategori :

                        Baik     : 85-105                                  

                        Cukup : 65-84

Kurang : 0- 64

 

Catatan Narasumber:

pada pelaksanaan pendampingan pada Tahap I ini  melalui kegiatan pendampingan penyusunan soal HOTS, dari 10 orang guru kelas masi ditemukan  soal-soal pada pilihan ganda yang belum memenuhi kategori HOTS, seperti pada penempatan taksonomi Bloom dan penempatan SK.

Rekomendasi :

Dari ke 10 orang guru tersebut, 7 orang guru  akan dilakukan pendampingan lebih lanjut pada Tahap Pendampingan ke II, dan 3 Orang guru yang sudah yang sudah mampu akan membantu penulis melakukan pendampingan kepada guru-guru lain namun akan tetap memperbaiki soal yang belum sesuai dengan kategori HOTS dan akan diperiksa oleh Narasumber.

 

 

 

 

 

Menegtahui,

Mentor

 

 

Kalabahi, 7 Juni 2021

Pendamping/ Narasumber

 

 Sanusi, S.Pd.I, M.Pd    NIP.1979031320091210002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REKAPAN HASIL PENILAIAN KERJA PESERTA TAHAP DAMPING I

Nama Kegiatan                 : Pendampingan Kepada Guru Dalam Penyusunan Soal HOTS

Kompnen Penilaian           : Pembuatan Soal HOTS

Materi                                : Mata Pelajaran

Jumlah Soal                       : 35

Bentuk Soal                       : Pilihan Ganda

No.

Nama Peserta

 

KD/SK/ HOTS

Skor Perolehan

Nilai

Akhir

Ket.

1

2

3

1.       

Jakaria Latif, A.Ma

15

-

20

60

57,142

Kurang

2.       

Nur Aini M.Igo, S.Ag.

5

-

30

90

85,714

Baik

3.       

Sansul Kanu, S.Pd.

15

-

20

60

57,142

Kurang

4.       

Buhanudin L. Tamal, S.Pd.

14

-

21

63

60

Kurang

Catatan:

3 : Sangat sesuai

2 : Kurang sesuai

1 : Tidak sesuai

                        NA = SP x 100

                                 Skor Maks

            Kategori :

                        Baik     : 85-105                                  

                        Cukup : 65-84

Kurang : 0- 64

 

Catatan  Narasumber:

pada pelaksanaan pendampingan pada Tahap I ini  melalui kegiatan pendampingan penyusunan soal HOTS dari 4 orang guru mata pelajaran masi ditemukan  soal-soal pada pilihan ganda yang belum memenuhi kategori HOTS, seperti pada penempatan taksonomi Bloom dan penempatan SK.

Rekomendasi :

Dari ke 4 orang guru tersebut akan dilakukan pendampingan kepada 3 orang guru lebih lanjut pada Tahap Pendampingan ke II

 

 

Menegtahui,

Mentor

 

 

Kalabahi, 7 Juni 2021

Pendamping/ Narasumber

 

 Sanusi, S.Pd.I, M.Pd    NIP.1979031320091210002

 

 

REKAPAN HASIL PENILAIAN KERJA PESERTA TAHAP DAMPING II

 

Nama Kegiatan                 : Pendampingan Kepada Guru Dalam Penyusunan Soal HOTS

Kompnen Penilaian           : Pembuatan Soal HOTS

Materi                                : Tematik

Jumlah Soal                       : 35

Bentuk Soal                       : Pilihan Ganda

 

No.

Nama Peserta

 

KD/SK/ HOTS

Skor Perolehan

Nilai

Akhir

Ket.

1

2

3

11.   

Herlina Latu, S.Pd.

2

-

33

99

94,285

Baik

12.   

Siti Marwa Djadi, S.Pd.I

5

-

30

90

85,714

Baik

13.   

Asma Bela, S.Pd.

5

-

30

90

85,714

Baik

14.   

Masita Sibala, S.Pd.I

4

-

31

93

88,571

Baik

15.   

Hajrah, A,Ma.

3

-

32

96

91,428

Baik

16.   

Maryanti Kadir, S.Pd.

2

-

33

99

94,285

Baik

17.   

Saiful Oang, S.Pd.

1

-

34

102

97,142

Baik

18.   

Murniati Mustafa, S.Pd.

4

-

31

93

88,571

Baik

19.   

Fitriani Kadir, S.Pd.

4

-

31

93

88,571

Baik

20.   

Siti Aminah Jou, S.Pd.

3

-

32

96

91,428

Baik

           

Catatan:

3 : Sangat sesuai

2 : Kurang sesuai

1 : Tidak sesuai

                        NA = SP x 100

                                 Skor Maks

            Kategori :

                        Baik     : 85-105                                  

                        Cukup : 65-84

Kurang : 0- 64

 

Catatan Narasumber:

pada pelaksanaan pendampingan pada Tahap II ini  melalui kegiatan pendampingan penyusunan soal HOTS, dari 10 orang guru kelas masi ditemukan  soal-soal pada pilihan ganda yang belum memenuhi kategori HOTS, namun tidak sebnayak pada Tahap I, seperti pada penempatan taksonomi Bloom dan penempatan SK.

Rekomendasi :

Dari ke 10 orang guru tersebut, tidak ada lagi  guru  yang akan dilakukan pendampingan lebih lanjut pada Tahap Pendampingan pembuatan Soal HOTS, pendapingan selanjutnya adalah melakukan pembuatan perangkat pembelajaran dan proses pembelajaran di dalam kelas dengan kategori HOTS dengan pendekatan TPACK.

 

 

 

Menegtahui,

Mentor

 

 

Kalabahi, 7 Juni 2021

Pendamping/ Narasumber

 

 Sanusi, S.Pd.I, M.Pd    NIP.1979031320091210002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REKAPAN HASIL PENILAIAN KERJA PESERTA TAHAP DAMPING II

Nama Kegiatan                 : Pendampingan Kepada Guru Dalam Penyusunan Soal HOTS

Kompnen Penilaian           : Pembuatan Soal HOTS

Materi                                : Mata Pelajaran

Jumlah Soal                       : 35

Bentuk Soal                       : Pilihan Ganda

 

No.

Nama Peserta

 

KD/SK/ HOTS

Skor Perolehan

Nilai

Akhir

Ket.

1

2

3

5.       

Jakaria Latif, A.Ma

4

-

31

93

88,571

Baik

6.       

Nur Aini M.Igo, S.Ag.

2

-

33

99

94,285

Baik

7.       

Sansul Kanu, S.Pd.

3

-

32

96

91,428

Baik

8.       

Buhanudin L. Tamal, S.Pd.

3

-

32

96

91,428

Baik

           

Catatan:

3 : Sangat sesuai

2 : Kurang sesuai

1 : Tidak sesuai

                        NA = SP x 100

                                 Skor Maks

            Kategori :

                        Baik     : 85-105                                  

                        Cukup : 65-84

Kurang : 0- 64

 

Catatan Supervisor:

pada pelaksanaan pendampingan pada Tahap I ini  melalui supervise akademik, dari 4 orang guru mata pelajaran masi ditemukan  soal-soal pada pilihan ganda yang belum memenuhi kategori HOTS, namun tidak sebnayak pada Tahap I, seperti pada penempatan taksonomi Bloom dan penempatan SK.

Rekomendasi :

Dari ke 4 orang guru tersebut, tidak ada lagi  guru  yang akan dilakukan pendampingan lebih lanjut pada Tahap Pendampingan pembuatan Soal HOTS, pendapingan selanjutnya adalah melakukan pembuatan perangkat pembelajaran dan proses pembelajaran di dalam kelas dengan kategori HOTS dengan pendekatan TPACK.

 

 

 

 

 

 

Menegtahui,

Mentor

 

 

Kalabahi, 7 Juni 2021

Pendamping/ Narasumber

 

 Sanusi, S.Pd.I, M.Pd    NIP.1979031320091210002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TABEL REKAPAN HASIL KEGIATAN PENDAPINGAN PENYUSUNAN SOAL HOTS

 BAIK TAHAP I MAUPUN TAHAP II

 

 Kategori : Guru Kelas ( Tematik )

 

NO.

NAMA PESERTA

NILAI TP.I

NILAI TP.II

KET.

1

Herlina Latu, S.Pd.

85,714

94,285

Ada Peningkatan

2

Siti Marwa Djadi, S.Pd.I

54,285

85,714

Ada Peningkatan

3

Asma Bela, S.Pd.

57,142

85,714

Ada Peningkatan

4

Masita Sibala, S.Pd.I

60

88,571

Ada Peningkatan

5

Hajrah, A,Ma.

54,285

91,428

Ada Peningkatan

6

Maryanti Kadir, S.Pd.

85,714

94,285

Ada Peningkatan

7

Saiful Oang, S.Pd.

91,428

97,142

Ada Peningkatan

8

Murniati Mustafa, S.Pd.

62,857

88,571

Ada Peningkatan

9

Fitriani Kadir, S.Pd.

54,285

88,571

Ada Peningkatan

10

Siti Aminah Jou, S.Pd.

62,857

91,428

Ada Peningkatan

 

Kategori : Guru Mapel ( Agama dan PJOK )

NO.

NAMA PESERTA

NILAI TP.I

NILAI TP.II

KET.

1

Jakaria Latif, A.Ma

57,142

88,571

Ada Peningkatan

2

Nur Aini M.Igo, S.Ag.

85,714

94,285

Ada Peningkatan

3

Sansul Kanu, S.Pd.

57,142

91,428

Ada Peningkatan

4

Buhanudin L. Tamal, S.Pd.

60

91,428

Ada Peningkatan

 

 

4.      Pembahasan

  

Pendampingan dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi guru menyusun soal HOTS  melalui pendekatan kolaboratif adalah salah upaya untuk melakukan pengembangan pada madrasah demi ketercapain pada 8 Standar Nasional Pendidikan telah dilakukan dalam beberapa hari yaitu dari tanggal 7 sampai dengan 9  Juni  2021 yang lalu dengan hasil yang akan penulsi bahas berikut ini.

a.      Kondisi Awal Sebelum Dilakukan Pendampingan Pada Peserta.

pada kegiatan awal sebelum dilakukan pendampingan pada peserta dengan menggunakan instrumen yang telah tersedia, penulis menemukan bahwa soal-soal yang dibuat oleh peserta belum sepenuhnya menjadi soal HOTS, terbukti dengan masih ditemukan pemetaan KD dan SK tidak sejalan dengan konteks soal. Kata kerja yang digunakan dalam kalimat perintah soal tidak pada level C4, C5 dan C6. Kemudian soal-soal masih sebagian besar tidak mempunyai stimulus yang relevan dengan KD maupun SK. Ditemukan pula soal-soal yang telah dibuat oleh peserta masi pada level C1,C2 dan C3. Kemudian pada penyusunan soal secara etika sebuah soal HOTS maupun etika penulisan sebuah soal yang baik dan benar, masih ditemukan soal-soal yang memiliki obsen yang tidak reliabel dan sistematis. Dengan kondisi nyata seperti itu maka harus ada perbaikan yang signifikan yang dilakukan oleh kepala madrasah atau pengawas kepada guru-guru agar terciptanya sebuah hasil penilaian yang akuntabel, reliabel serta dapat dipertanggungjawbkan kualitasnya.

b.      Kondisi setelah dilakukan pendampingan kepada peserta

Dengan melihat hasil kegiatan sebelum adanya pendapingan dengan pendekatan kolaboratif, maka penulis melakukan pendampingan yang dibantu oleh beberapa guru yang ditunjuk karena memiliki kemampuan untuk mendampingi peserta. Pada saat kegiatan pendampingan tersebut penulis memberikan masukan baik secara teori maupun praktiknya dalam penyusunan soal yang berkategori HOTS. Dalam penyusunan soal HOTS langkah-langkah yang harus diketahui oleh peserta atau guru adalah : 

(1)         Menganalisis KD yang dapat dibuatkan soal HOTS.

Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS. Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS.  KD dapat dianalisis melalui Buku Tema Siswa K13 dan dapat juga diambil dari Silabus.

(2)         Menyusun kisi-kisi soal.

Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS. Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.

(3)         Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual;

Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat

(4)         Menulis butir pertanyaan pada kartu soal sesuai dengan kisi-kisi soal HOTS

Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relative sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format level Kognitif dan harus menggunakan kata kerja operasional pada Level C4,C5 dan C6.

(5)         Membuat pedoman penskoran atau kunci jawaban.

Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Dari Langkah-langkah diatas, seorang peserta atau guru dapat membuat soal yang berbasis HOTS. Tips membuat soal HOTS dan LOT di bawah ini :

1. Gunakan Konteks Dunia Nyata

Contoh soal

Soal A.1 (tidak menggunakan konteks dunia nyata)

Seorang peneliti menetapkan tingkat signifikansi 0,05. Berapakah nilai uji signifikansi yang dapat dapat diterima untuk menolak hipotesis penelitian? 

Soal A.2 (menggunakan konteks dunia nyata)

Seorang peneliti membandingkan berat badan dua kelompok untuk meneliti efektivitas obat pelangsing. Peneliti tersebut menetapkan taraf signifikansi 0,05. Hasil uji signifikansi memperoleh nilai 0,017. Apakah yang dapat disimpulkan oleh peneliti tersebut?

Penjelasan: Penyajian Kasus Nyata memungkinkan proses menelaah informasi

2. Berikan Pertanyaan yang terkait analisis visual

Contoh soal

Soal B.1

Apakah peran burung Elang dalam suatu rantai makanan?

Soal B.2

Cermati gambar berikut!

 

         

 

Seorang ilmuwan berhasil menemukan pestisida ampuh pembasmi ulat sehingga jumlah ulat menurun dengan drastis. Apakah yang akan terjadi kepada Elang?

Penjelasan: Melalui analisa visual bagan yang kompleks, maka tingkat berfikir ordenya lebih tinggi

3. Tanyakan alasan dari jawaban yang diberikan

Abad ke-21 adalah abad digital dan abad informasi. Arus informasi yang begitu deras berdampak negatif terhadap disintegrasi bangsa. Misalnya kejadian SARA di suatu sekolah yang belum terverifikasi kebenarannya, diunggah seorang pelajar di media sosial. Berita tersebut akan cepat tersebar ke masyarakat luas sehingga memicu konflik antar kelompok. Oleh karena itu, pembatasan penggunaan media sosial harus diterapkan kepada semua pelajar.  

Setujukah Kamu dengan pernyataan tersebut? Jelaskan alasanmu!

4. Soal pilihan ganda dan soal objektif DAPAT mengukur HOTS

                    

 

Beberapa contoh soal dan trik menulis soal HOTS tersebut adalah sebagian materi pendampingan yang telah diberikan kepada peserta pada saat pendampingan dilakukan. Oleh karena itu setalah dilakukan pendampingan dengan pendekatan kolaboratif tersebut dan setelah dilihat hasil evaluasi pada saat sabelum pendapingan dan setelah pendampingan dapat digambarkan sebagai berikut :

1.      Di temukan dari soal yang disusun oleh 10 peserta ( guru tematik ) termasuk pada peserta yang pernah mengikuti kegiatan penyusunan Soal HOTS, ada beberapa indicator penulisan soal HOTS yang tidak dilewati dengan baik yaitu pemilihan kata kerja yang tidak mengarah ke level soal HOTS, belum masuk pada rana C4,C5 dan C6, akan tetapi setelah dilakukan pendapingan penulis memang masi menemukan beberapa soal yang belum memenuhi kriteria namun secara umum peseta sudah mampu menentukan kalimat soal yang sudah masuk ke level C4,C5 dan C6. Demikian pula pada peserta  ( guru mata pelajaran ), baik mapel  agama maupun PJOK dan Bahsa Arab. pada saat setelah pendampingan memang masi ada penulisan butir soal yang tidak masuk level HOTS, akan tetapi secara kseseluruhan guru maple sudah mampu menentukan kalimat soal sesuai dengan level soal HOTS.

2.      Masi terdapat SK yang tidak relevan dengan KD atau terlalu membias dalam merumuskan SK, sehingga atara butir soal dengan tujuan pembelajaran tidak singkron atau tidak tercapai, sehingga pemilihan kata kerja operasional pada soal masi berada pada level C1, C2 dan C3. Setelah dilakukan pendampingan kepada peserta, terlihat ada perubahan cara berfikir dan kerja peserta dalam menentukan SK, sehingga tidak terlalu jauh dengan KD yang ada dan akan sesuai dengan tujuan pembelajarnnya.

3.      Masi ditemukan pemilihan stimulus yang  tidak menarik dan kontekstual, padahal pemilihan stimulus yang menarik menjadi salah satu langkah penting dalam menyusun soal HOTS. Demikian halnya dengan pemilihan stimulus yang tidak kontektual akan mempengaruhi cara berfikir peserta didik yang tidak tinggi. Namun setelah dilakukan pendampingan dengan pendekatan supervise akademik terlihat banyak sekali perubahan cara guru dalam memilih stimulus dalam penyusunan soal HOTS.

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

A.    Simpulan

1.      Kegiatan OJT II yang telah dilakukan oleh penulis dalam bentuk Supervisi Akademik dengan pendekatan kolaboratif dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.       Secara umum guru-guru siap untuk disupervisi, baik perangkat

pembelajaran maupun supervise akademik ( klisnis ), namun hasil supervise membuktikan masi ada guru-guru yang membuat perangkat belum sempurna bahkan banyak perangkat yang dicopy paste dari internet dan lupa untuk melakukan koreksi dan perbaikan sesuai dengan kebutuhan guru tersebut, oleh karena itu penulis mendatkan rekomendasi dari beberapa supervisor sejawat bahwa, masi ada perangkat pembelajaran guru yang isinya tidak sesuai dengan kondisi dan kebutahan serta kondisi guru tersebut. Maka dari hasil analisis dan penilaian ini penulis dapat menyampaikan bahwa guru-guru di MIN 6 Alor sudah mampu menunjukkan perangkat pembelajarannya secara lengkap, namun isi dari perangkat tersebut ada yang tidak sesuai dengan kosndisi dan kebutuhan lokasi setempat. Maka untuk mengatasi hal tersebut di atas, harus ada sebuah scenario kegiatan peningkatan kemampuan pada guru-guru dalam membuat perangkat pembelajaran yang baik dan leangkap secara aturan.

b.      Pada umumnya guru-guru MIN 6 Alor dalam kegiatan supervise akademik ( klinis ) secara fisik dan mental sudah siap, dan bersyukur semua guru berhasil disupervisi dengan baik. Namun secara objektif penulis perlu menyampaikan bahwa hasil rekomendasi dari supervisor bahwa masi ada guru-guru yang mengajar tidak sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat ( RPP ), seperti alokasi waktu, metode, bahkan media yang digunakan tidak sesuai yang direncanakan dan masi banyak lagi rekomendasi yang lain. Dari kondisi objektif tersebut dapat penulis sampaikan bahwa kemampuan guru-guru dalam menyampaiakan pembelajaran di dalam kelas sangat variative. ada Sebagian guru yang memang belum mampu mengajar dengan berpedoman pada RPP yang telah dibuat. selain proses pebelajaran yang belum sepenuhnya merujuk pada RPP, masi banyak guru-guru yang membuat penilaian akhir dari proses KBM belum merujuk pada standar penilaian HOTS. Terlihat bahwa guru-guru masi merujuk pada penilaiaan yang berlevel LOT. Hal ini menurut penulis bahwa kemapuan guru-guru untuk membuat penilaiaan pembelajaran HOTS masi belum maksimal. Relaitas tersebut di atas, penulis berkeyakinan bahwa hal ini bisa diatasi dengan cara guru-guru harus terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyampaikan pembelajaran di depan kelas dengan tidak keluar atau mebias dari rencana yang sudah disiapkan, serta proses penilaian keterampilan berfikir tingkat tinggi ( HOTS ) dapat dilakukan. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan tesebut kususnya pada penilaian HOTS maka lembaga atau Kepala Madrasah membuat program kegiatan peningkatan kemampuan guru-guru, baik dalam bentuk worshop, diklat dan lain-lain.

c.       Hari ini guru dituntut untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dengan sebaik mungkin  secara kreatif dan inifatif. Hal ini menjadi jawaban atas tuntutan dalam kondisi pandemic sekarang. Tuntutan pembelajaran dengan moda Daring ( dalam jaringan ) menjadi keharusan untuk dilakukan guna melayani kebutuhan proses pmebelajaran terhadap siswa. Untuk menyempurnakan proses pembelajaran yang baik maka guru diharuskan membuat penilaian yang berlevel HOTS. Penilaian HOTS adalah kemapuan guru menyusun instrument penilaian kepada siswa dengan kategori pertanyan soal pada level C4, C5 dan C6.  Untuk meningkatkan kemampuan guru, terutama dalam menyiapkan perangkat pembelejaran dan penilaian HOTS yang baik tersebut maka perlu upaya dari Madrasah dalam hal ini Kepala Madrasah untuk melakukan sebuah kegiatan pendampingan atau pelatihan secara terpusat dan terencana. Kegiatan tersebut akan mampu mejawab dari beberapa kekurangan atau kelemahan guru-guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi kegiatan supervise ini Kepala Madrsah dapat merencanakan program yang strategis sesuai dengan kebutuhan  guru dan lemabaga secara umum dan akan menajdi barometer keberhasilan dari sebuah kompetensi manajerial seorang Kepala Madrsah.   

2.      Kegiatan pendapingan dalam upaya meningkatkan kompetensi guru menyusun soal HOTS dengan pendekatan  bebasis kolaboratif yang telah dilakukan oleh penulis kepada peserta ( guru-guru ) MIN 6 Alor telah membuah hasil yang sangat positif sesuai dengan tujuan yang ingin  dicapai dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu penulis dapat menyimpulkan bahwa kegiatan ini menghasilkan beberapa poin penting yaitu :

a.       Terlihat ada peningkatan kemampuan guru-guru dalam menciptakan

perangkat pembelajaran yang  beroreatasi pada pembelajaran HOTS.

b.      Terdapat ada peningkatan kemampuan guru-guru dalam menciptakan model pembelajaran yang bervariasi melalui penerapan model-model pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang beroreatasi pada pembelajaran HOTS.

c.       Ada peningkatan kemampuan guru-guru dalam menyusun serta melakukan penilaian yang berbasis HOTS kepada peserta didik dengan baik dan benar

d.      Dari 14 guru yang ikut dalam proses pendampingan ini ada 4 guru yang memiliki nilai yang cukup baik dari guru-guru yang lain, karena ke 4 guru tersebut sudah pernah mengikuti kegiatan pendampingan yang serupa.

e.       Ada peningkatan animo peserta dalam mengikuti kegiatan pendampingan, karena hal ini merupakan bagian dari tanggungjawab professional mereka dalam mencipkan hasil penilaian pembelajaran yang berkualitas, dan akan berdampak langsung pada meningkatnya prestasi peserta didik serta kualitas output Lembaga.

B.           Saran

1.      Kepada Kepala Madrasah agar kegiatan Supervisis perangkat pembelajaran dan supervise akademik serta tindak lanjut berupa kegiatan pendampingan ini akan terus dilakukan demi meningkatkan kompetensi profesinal guru.

2.      Kepada Mentor, agar kegiatan ini menjadi salah satu starting poin untuk menentukan program kegiatan-kegiatan yang serupa pada lembaga lain.

3.      Kepada Guru-guru atau peserta, jadikan kegiatan ini sebagai salah wadah belajar Bersama dalam mencari solusi untuk menyelesaikan beberap problem dalam menciptakan perangkat, melakasanakan proses KBM serta melakukan penilaian kepada peserta didik. 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Afandi & Sajidan. 2017. Stimulasi Keterampilan Tingkat Tinggi. UNSPRESS.

Amir, T.M, 2009. Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pembelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Ditjen GTK. Direktorat PG Dikdas. 2017. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Melalui PKB Guru Sekolah Dasar

King, F.J., Goodson, L., & Rohani. 2006. Higher Order Thinking Skills. Center for Advancement of Learning and Assessment

Kuntari Eri Murti. 2013. Pendidikan Abad 21 Dan Implementasinya Pada Pembelajaran Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Untuk Paket Keahlian Desain Interior 

Lewis, A., & Smith, D. 1993. Defining High Order Thinking. Theory into Practice, 32 (3): 131-137.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 6 Tahun 2018 tentang penugasan guru sebagai kepala Sekolah/Madrasah

Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 36 Tahun 201 1 Tentang Pedoman Pengendalian Pendidikan dan Pelatihan

Siska Rahmawati, & Sunardi, & Dian Kurniati. 2017. Pengembangan Indikator 4 C’s Yang Selaras Dengan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs Kelas Viii Semester 1

Siti Zubaidah. 2016. Keterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Yang Diajarkan Melalui Pembelajaran 

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

About Sanusi,S.Pd.I,M.Pd.

0 Comments:

Posting Komentar